Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar mengetahui istilah perubahan iklim, tetapi memahaminya sebagai risiko yang nyata dan mengetahui bagaimana meresponsnya.

Di sinilah kesadaran iklim menjadi penting, termasuk bagi perempuan.

Pakar komunikasi, gender, dan media Universitas Indonesia Prof Donna Asteria dalam pemikirannya mengenai komunikasi lingkungan berperspektif gender menekankan pentingnya melihat perempuan bukan hanya sebagai kelompok yang rentan terhadap dampak lingkungan, tetapi juga sebagai komunikator dan aktor dalam perubahan sosial untuk keberlanjutan lingkungan.

Pandangan tersebut memberi perspektif yang lebih lengkap. Perempuan dapat menghadapi dampak lingkungan secara berbeda, tetapi pada saat yang sama memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kapasitas untuk terlibat dalam merespons persoalan lingkungan.

Karena itu, pengetahuan mengenai perubahan iklim dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan yang lebih luas.

Hal tersebut mencakup dua pendekatan, yakni mitigasi dan adaptasi. Mitigasi berhubungan dengan upaya mengurangi penyebab perubahan iklim, sementara adaptasi berkaitan dengan kemampuan menghadapi dampak yang sudah terjadi atau diperkirakan akan terjadi.Keduanya membutuhkan pemahaman mengenai risiko.

Chatterjee, Thongprasert, dan Some dalam penelitiannya pada 2024 menjelaskan bahwa komunikasi perubahan iklim dapat berperan dalam membangun pengetahuan, keyakinan, sikap, serta berbagai faktor yang memengaruhi respons masyarakat terhadap perubahan iklim. Pemahaman terhadap risiko menjadi bagian penting agar masyarakat dapat merespons melalui tindakan mitigasi maupun adaptasi.

Kesadaran, dengan demikian, bukan tujuan akhir. Poin itu menjadi titik awal untuk mengenali perubahan dan menentukan respons.

Hal ini juga terlihat dalam penelitian Puji Lestari dkk pada 2026 mengenai kepemimpinan perempuan dalam merespons dampak perubahan iklim di Jawa Tengah. Penelitian tersebut menunjukkan keterlibatan perempuan dalam konservasi mangrove, penguatan ekonomi rumah tangga, Program Kampung Iklim (ProKlim), usaha mikro, hingga pengorganisasian masyarakat.