Contoh tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan kesadaran dapat berkembang menjadi keterlibatan nyata dalam menghadapi perubahan lingkungan.Kembali ke Tugu Selamat Datang. Aksi enam aktivis Greenpeace tersebut boleh saja menimbulkan perdebatan mengenai cara menyampaikan aspirasi. Namun, pesan tentang krisis iklim yang mereka bawa tetap relevan untuk direnungkan.
Terlebih ketika di wilayah lain masyarakat sedang menghadapi asap kebakaran hutan dan lahan serta dampanya.
Kita mungkin tidak selalu dapat melihat perubahan iklim secara langsung. Tidak ada satu kejadian yang bisa berdiri sendiri sebagai bukti tunggal perubahan iklim. Tetapi perubahan suhu, pola hujan, kekeringan, serta meningkatnya risiko berbagai kejadian ekstrem merupakan bagian dari perubahan kondisi iklim yang perlu dipahami.
Pemahaman itu penting agar masyarakat tidak hanya bereaksi ketika dampak sudah terjadi. Termasuk, oleh perempuan.
Bukan karena perempuan harus menjadi pihak yang paling bertanggung jawab menghadapi perubahan iklim, tetapi karena mereka juga memiliki hak dan kebutuhan untuk memahami perubahan lingkungan yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Perubahan iklim perlu dikenali sebelum dampaknya semakin dekat. Ketika asap sudah memenuhi udara, ketika banjir sudah masuk rumah, atau ketika kekeringan sudah mengganggu penghidupan, ruang untuk bersiap menjadi jauh lebih sempit.
Karena itu, pesan dari atas Tugu Selamat Datang tidak harus berhenti pada aksi memanjat monumen. Pesan yang lebih penting adalah bahwa perubahan iklim sudah menjadi bagian dari persoalan kehidupan sehari-hari.
Dan, semakin baik perempuan memahami perubahan tersebut, semakin besar pula bekal yang mereka miliki untuk mengenali risiko, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Femi Diah Nugrahani. Jurnalis NadiKabar, mahasiswa Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia.