Terobosan krusial lainnya terjadi di South Carolina, dengan kandidat Partai Demokrat, Annie Andrews, seorang dokter anak, mengalahkan kandidat Partai Republik, Darline Graham, yang didukung Trump. Partai Demokrat tercatat belum pernah memenangkan pemilihan Senat di South Carolina yang sangat konservatif sejak tahun 1998.
Sejarah tercipta di Kansas, di mana kandidat Partai Demokrat, Adam Hamilton, seorang pendeta Metodis, berhasil mengalahkan petahana dari Partai Republik. Roger Marshall. Kemenangan ini menjadikan Hamilton sebagai Demokrat pertama yang terpilih menjadi Senator Kansas sejak tahun 1932 silam.
Kansas dikenal sebagai negara bagian AS yang sangat konservatif dan biasanya dikuasai Partai Republik.
Sedangkan di Iowa, belum pernah ada Senator dari Partai Demokrat yang menang di negara bagian itu sejak tahun 2008. Fakta ini menunjukkan betapa luasnya keberhasilan Partai Demokrat dalam menembus basis kekuatan Partai Republik.
Hasil pemilihan Senat di Texas menjadi kejutan politik paling menggemparkan. Kandidat Partai Demokrat, James Talarico, berhasil menumbangkan kandidat Partai Republik, Ken Paxton, yang juga Jaksa Agung Texas dan sekutu dekat Trump.
Dalam pemilihan Gubernur Texas, Gina Hinojosa dari Partai Demokrat mengalahkan petahana Greg Abbott dari Partai Republik. Hasil ini mengakhiri dominasi Partai Republik selama puluhan tahun atas jabatan tertinggi di negara bagian tersebut.
Partai Demokrat juga berhasil mempertahankan kursi-kursi penting mereka di Senat AS, termasuk di Georgia dan New Hampshire.
Untuk pemilihan anggota DPR, Partai Demokrat berhasil merebut distrik-distrik yang sebelumnya dikuasai Partai Republik di berbagai negara bagian, mulai dari Pennsylvania dan New Jersey hingga Kentucky, Arizona, dan North Carolina.
Dengan keberhasilan mengambil alih kendali atas DPR dan Senat, maka Partai Demokrat kini memiliki kemampuan untuk mencegah legislasi dan agenda yang diusulkan Trump, menyelidiki pemerintahannya terkait dugaan korupsi, kebijakan perang melawan Iran, dan kebijakan imigrasi yang terlampaui keras.
Mereka juga dapat memanfaatkan kendali atas Senat untuk menggagalkan penunjukan hakim atau pejabat tinggi lainnya yang diajukan Trump.
Pesiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi hasil pemilu sela yang menunjukkan kemenangan telak Partai Demokrat atas Partai Republik. Tak diduga, Trump mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat, bahkan melontarkan pujian yang langka untuk rivalnya tersebut.
Trump, dalam tanggapannya, mengakui bahwa isu perang Iran mungkin turut berperan dalam kekalahan Partai Republik yang menaungi dirinya.
Namun, seperti dilansir AFP, Rabu (4/11/2026), Presiden AS berusia 80 tahun itu menolak untuk memikul tanggung jawab pribadi atas hasil pemilu sela yang akan mengubah dinamika dua tahun terakhir masa jabatannya tersebut. Trump berupaya melimpahkan kesalahan kepada rekan-rekannya di Partai Republik.