NADIKABAR.COM — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Anggota Dewan Pendidikan Tinggi, Prof Dr Ahmad Tholabi Kharlie mengapresiasi komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam memperkuat sektor pendidikan nasional.
"Saya mengapresiasi komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pendidikan nasional, sebagaimana tercermin dalam alokasi anggaran pendidikan sebesar Rp757,8 triliun pada 2026, serta program revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan perluasan akses pendidikan," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut Tholabi, besarnya investasi di bidang pendidikan tersebut perlu bermuara pada peningkatan kualitas yang terukur bagi seluruh ekosistem pendidikan. Peningkatan kesejahteraan guru dan dosen, penguatan produktivitas riset, serta peningkatan daya saing perguruan tinggi menjadi kunci penting dalam memastikan pembangunan berjalan secara berkelanjutan.
"Dari perspektif akademik, investasi tersebut perlu bermuara pada peningkatan mutu pembelajaran, kesejahteraan guru dan dosen, produktivitas riset, serta daya saing perguruan tinggi," ujarnya.
Ia berharap momentum dua tahun pemerintahan ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola pendidikan yang transparan, berbasis bukti, serta berorientasi pada keunggulan dan pemerataan.
"Saya berharap momentum dua tahun pemerintahan ini semakin memperkuat tata kelola pendidikan yang akuntabel, berbasis bukti, dan berorientasi pada keunggulan, demi mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa," katanya.
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar bidang Pendidikan Teknik Vokasional Universitas Negeri Padang (UNP) Prof Drs Ir Ganefri menyoroti pentingnya pemerataan akses agar program-program pemerintah dapat dirasakan secara nyata oleh anak-anak dari beragam latar belakang sosial dan wilayah.
"Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo menunjukkan perhatian nyata pada pendidikan melalui perbaikan sekolah, penguatan pembelajaran digital, serta perluasan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dari seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah 3T," jelas Ganefri.
Ganefri menilai perluasan akses pendidikan harus berjalan beriringan dengan penyediaan lingkungan belajar yang layak serta pemanfaatan teknologi yang memadai. Dengan demikian, anak-anak di berbagai pelosok daerah memiliki kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensi diri dan meraih cita-cita mereka.
"Kita mengapresiasi ikhtiar ini agar semakin banyak anak Indonesia mendapatkan hak akses pendidikan, dapat belajar dengan layak dan meraih cita-citanya," kata dia.