NADIKABAR.COM — Usaha kecil dan menengah (UKM) binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), CV Alpha Agro Indonesia, membukukan transaksi ekspor 20 ton pala ke China senilai Rp181,3 juta.

Transaksi itu diperoleh usai berpartisipasi dalam The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 yang diselenggarakan di Guangzhou, China.

Kepala Divisi Jasa Konsultasi LPEI Maria Sidabutar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, mengatakan pihaknya mendampingi UKM dan debitur di sektor rempah dan produk kelapa dalam kegiatan tersebut untuk memanfaatkan kegiatan business matching yang difasilitasi oleh Kementerian UMKM RI.

LPEI menilai CISMEF 2026 menjadi momentum penting bagi UKM Indonesia untuk memperluas akses pasar dan membangun kemitraan dengan pembeli di China.

“Kami berharap sinergi ini dapat membantu semakin banyak UKM Indonesia untuk naik kelas dan mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan di pasar global,” kata Maria.

Sementara itu, Manager CV Alpha Agro Indonesia Lusy mengatakan keikutsertaan perusahaannya dalam pameran internasional tidak hanya diarahkan untuk mencari pembeli baru dan memperkuat merek di pasar global, tetapi juga untuk memahami karakteristik serta kebutuhan calon pembeli.

Menurut dia, pameran menjadi sarana bagi pelaku UKM untuk mempelajari preferensi pasar, pola transaksi, hingga proses pengiriman yang dibutuhkan dalam perdagangan ekspor.

“Kami sangat bersyukur atas dukungan pemerintah, salah satunya melalui LPEI, sehingga kami dapat berpartisipasi dalam pameran ini,” ujar Lusy.

Ia menilai keberhasilan UKM dalam mengikuti pameran internasional tidak hanya ditentukan oleh transaksi yang terjadi selama kegiatan berlangsung.

Kemampuan menjaga komunikasi dengan calon pembeli setelah pameran disebut menjadi bagian penting dalam mengubah pertemuan awal menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan.

Lusy menambahkan, proses menuju kesepakatan ekspor umumnya membutuhkan waktu. Karena itu, pelaku UKM perlu konsisten menindaklanjuti komunikasi dengan calon pembeli sekaligus memastikan kualitas produk dan kontinuitas pasokan.

Kesiapan tersebut dinilai penting agar UKM dapat memenuhi permintaan ketika kesepakatan ekspor akhirnya tercapai.

“Bagi kami, keikutsertaan ini tidak hanya menjadi sarana untuk membangun branding, tetapi juga untuk melakukan benchmarking dan memahami kebutuhan pasar, termasuk preferensi buyer, skema pembayaran, serta proses pengiriman,” tuturnya.