"Kehadiran kami di Ciptamulya adalah bukti nyata bahwa jarak dan perbedaan budaya tidak membatasi persaudaraan. Kami ingin saudara-saudara di Pasundan tahu bahwa mereka tidak sendiri melewati duka ini kita saling menguatkan, saling menopang sebagai satu keluarga besar Indonesia," tambahnya.
Keakraban tim redaksi kedua komunitas terekam jelas selama kunjungan. Di dalam saung bambu beratap rumbia khas Sunda, perwakilan Flobamorata duduk lesehan bersama para tokoh adat dan warga setempat.
Peleburan budaya tampak menonjol dari atribut yang dikenakan; para anggota komunitas memakai ikat kepala Sunda (iket) yang dipadukan dengan selendang tenun khas NTT.
Mereka juga berfoto bersama sambil membentangkan bendera hitam berlogo lingkaran biru bertuliskan "Ikatan Persaudaraan Flobamorata - Pasundan".
Rombongan turut turun langsung meninjau area bekas kebakaran. Di atas puing-puing bangunan, pondasi batu yang menghitam, serta sisa arang pepohonan yang hangus terbakar, bendera persaudaraan tersebut kembali dibentangkan sebagai simbol komitmen untuk saling menopang di masa pemulihan.