Ia menilai kuliah di UMI bukan semata ingin meraih gelar sarjana. Menurutnya, kampus UMI ingin memastikan mahasiswanya betul-betul menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
"Ananda masuk ke UMI bukan hanya memperoleh gelar akademik semata, tetapi insyaallah dapat menjadi manusia yang berilmu, beriman dan berakhlak yang kompeten, memiliki kepemimpinan dan mau memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan peradaban," ucapnya.
Salah satu jalannya melalui Pesantren Kilat yang kini telah menjadi tradisi UMI. Mahasiswa harus dibekali dengan ciri khas yang terarah dan punya tanggung jawab.
"Karena itu pesantren ini memiliki posisi yang sangat penting, bukan sekadar penyambutan mahasiswa baru semata tetapi sebagai pintu masuk membentuk karakter mahasiswa UMI. Karena itu mahasiswa harus memiliki identitas dan tanggung jawab yang sangat jelas," katanya.
Dirinya menuturkan UMI memiliki ciri khas sebagai kampus Islam. Semangat itu diupayakan dengan mengintegrasi keunggulan akademik dengan nilai-nilai keislaman.
"UMI adalah perguruan tinggi Islam yang ingin mengintegerasikan keunggulan dan akademik dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan
Kita tidak ingin menghasilkan sarjana yang hanya pintar, tetapi sarjana yang pintar sekaligus benar," tuturnya.
Menurutnya, langkah tersebut sehingga menjadi landasan penting dalam mempersiapkan UMI menuju World Class University. Kini, UMI membangun upaya tersebut dengan memastikan kampus bermanfaat hingga tingkat global.
"World Class University bukan hanya persoalan teknik, bukan hanya persoalan publikasi, bukan hanya persoalan jumlah profesor dan akreditasi. Tetapi World Class University menampilkan, dia mampu menghasilkan manusia yang dipercaya dalam memberikan manfaat pada tingkat global," bebernya.
Dia berharap Pesantren Kilat ini dapat membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih baik ke depan. Terutama semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.