Baginya, keberhasilan di PIMNAS tidak cukup diukur dari jumlah medali yang dibawa pulang. Lebih dari itu, karya mahasiswa diharapkan memiliki keberlanjutan dan mampu memberikan dampak nyata.

Eko menilai, gagasan dan inovasi yang telah mahasiswa kembangkan bersama dosen pendamping perlu mendapat pendampingan lanjutan. Dengan begitu, hasil kompetisi tidak berhenti sebagai proposal atau karya ilmiah semata.

"Yang paling penting itu impact atau dampak dan keberlanjutan. Tanpa adanya keberlanjutan, apa yang diusahakan teman-teman, termasuk dosen pendamping, hanya akan berhenti sebagai gagasan dan ide," jelasnya.

Selain itu, persiapan menghadapi PIMNAS mendatang kini mulai dirancang sejak jauh hari. Direktorat Kemahasiswaan UNAIR mulai menyiapkan strategi pembinaan lebih awal. Bahkan, proses penjaringan mahasiswa potensial atau talent scouting direncanakan akan dimulai setelah penyelenggaraan PIMNAS ke-39.

Salah satu upaya yang disiapkan adalah mengoptimalkan program UNAIR Menagih Janji bagi mahasiswa yang diterima melalui jalur prestasi. Melalui program tersebut, mahasiswa didorong untuk terus menunjukkan kemampuan dan prestasi yang menjadi salah satu modal mereka saat masuk perguruan tinggi.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa baru dalam mengembangkan gagasan dan inovasi juga akan diperkuat. Harapannya, atmosfer kompetisi dapat tumbuh sejak awal mahasiswa menempuh pendidikan di UNAIR.

"Kami mencoba mempersiapkan jauh lebih lama. Insyaallah, mulai satu tahun setelah event ini, tim kami sudah bergerak mencari talent-talent. Kami ingin atmosfer kompetisi itu tercipta di UNAIR," ungkapnya.

Berikan Apresiasi untuk Pemenang PIMNAS