Sementara itu, dalam bentuk menghargai kerja keras mahasiswa yang sudah berjuang dan meraih medali di PIMNAS, UNAIR juga akan memberikan apresiasi berupa finansial dan dukungan akademik yang tertuang dalam SK Rektor. Salah satunya, mahasiswa yang berhasil lolos pendanaan PKM dapat memperoleh fasilitas pembebasan skripsi sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia berharap, dukungan itu mampu memacu mahasiswa untuk terus mengembangkan gagasan dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

"Harapannya, mahasiswa tidak hanya mendapatkan sertifikat, tetapi juga ada apresiasi lainnya yang bisa memberikan semangat bagi mereka untuk terus berprestasi," katanya.

Keberhasilan dua tim mahasiswa UNAIR meraih medali emas ini tidak lepas dari kontribusi dosen pendamping Herdina Indrijati MPsi Psikolog dalam mengawal ide, penelitian, hingga kesiapan mahasiswa menghadapi kompetisi nasional.

"PKM menuju PIMNAS ini merupakan kompetisi dengan persiapan yang panjang. Bukan hanya satu atau dua bulan, tetapi satu tahun. Bahkan sebelum proposal diunggah, kami sudah berdiskusi intens untuk menemukan tema yang benar-benar sesuai," ungkapnya.

Selama proses pembinaan, tantangan tidak hanya berkaitan dengan substansi penelitian, tetapi juga dinamika kerja sama dan kondisi psikologis mahasiswa. Terlebih, kedua tim mengangkat isu sensitif, yakni radikalisme remaja dan feminisida atau pembunuhan perempuan.

Tantangan lainnya muncul ketika kedua tim dinyatakan lolos PIMNAS. Waktu persiapan menuju kompetisi yang hanya sekitar dua minggu membuat mahasiswa harus segera mematangkan presentasi. Namun, latihan telah dilakukan sejak awal penelitian sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi kompetisi.

"Saya sejak jauh hari selalu mengatakan kepada mereka, 'Kamu akan lolos PIMNAS'. Jadi, latihan presentasi sudah dilakukan sejak mereka mulai mengambil data. Ketika waktu persiapan sangat singkat, mereka sudah lebih siap," pungkasnya.