NADIKABAR.COM — Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39, UNAIR berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu juara favorit.

Penghargaan tersebut diumumkan di Gedung Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Semarang, kemarin. Dua tim PKM-RSH UNAIR berhasil meraih medali emas melalui penelitian yang mengangkat isu sosial kontemporer.

Tim PKM-RSH 3 yang terdiri dari Afif Pramudya Alriandi, Muhammad Adha Al-Faiz Nadhif, Annisa Alfitriah, Vennisya Nadia Putri, dan Desi Rahmawati Pambudi mengusung penelitian berjudul Vonis Di Balik Layar: Mengungkap Keputusan Pelaku dalam Eskalasi Kekerasan Gender dari Relasi Digital Menuju Femisida.

Sementara itu, Tim PKM-RSH 2 yang beranggotakan Azka Syifa Mazaya, Calista Prashanti Jocom, Farrel Thalhah Mahendra, Nabila Juhaina, dan Saila Salsabila meraih emas melalui penelitian Mengagumi Kejahatan, Menjelma Ancaman: Menguak Radikalisasi Digital Remaja Indonesia dalam True Crime Community.

Selain dua medali emas, UNAIR juga meraih penghargaan juara favorit melalui Tim PKM-RE 1. Tim yang terdiri dari Bayu Cahyo Bintoro, Intan Asmi Saharani, Muhammad Darryl Aghzuwwan Fiddianova, Anindita Azkia Fauzana, dan Barika Zoyscia Dyana Putri tersebut mengembangkan penelitian berjudul Inovasi Vesicular Nano-Transethosome Gel berbasis Minyak Buah Merah Papua Terinkorporasi Silk Fibroin Bombyx mori Cocoon sebagai Kandidat Terapi Osteoartritis.

Direktur Kemahasiswaan UNAIR Eko Supeno mengaku bangga atas hasil yang diperoleh kontingen PIMNAS dari UNAIR tahun ini. Menurutnya, dua medali emas dari kategori presentasi merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Apalagi, persaingan dalam ajang tahunan tersebut tidak mudah. Sejumlah perguruan tinggi juga mengirimkan tim-tim unggulan untuk memperebutkan gelar juara.

"Alhamdulillah, saya cukup surprise dan senang. Kami bersyukur dan saya sangat terharu dengan anak-anak," ujar Eko dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/11/2026).

Hasil tersebut menjadi modal penting bagi UNAIR untuk meningkatkan capaian pada kompetisi berikutnya. Terlebih, masih ada peluang yang perlu dikejar pada kategori riset eksakta.

Baginya, keberhasilan di PIMNAS tidak cukup diukur dari jumlah medali yang dibawa pulang. Lebih dari itu, karya mahasiswa diharapkan memiliki keberlanjutan dan mampu memberikan dampak nyata.

Eko menilai, gagasan dan inovasi yang telah mahasiswa kembangkan bersama dosen pendamping perlu mendapat pendampingan lanjutan. Dengan begitu, hasil kompetisi tidak berhenti sebagai proposal atau karya ilmiah semata.

"Yang paling penting itu impact atau dampak dan keberlanjutan. Tanpa adanya keberlanjutan, apa yang diusahakan teman-teman, termasuk dosen pendamping, hanya akan berhenti sebagai gagasan dan ide," jelasnya.

Selain itu, persiapan menghadapi PIMNAS mendatang kini mulai dirancang sejak jauh hari. Direktorat Kemahasiswaan UNAIR mulai menyiapkan strategi pembinaan lebih awal. Bahkan, proses penjaringan mahasiswa potensial atau talent scouting direncanakan akan dimulai setelah penyelenggaraan PIMNAS ke-39.

Salah satu upaya yang disiapkan adalah mengoptimalkan program UNAIR Menagih Janji bagi mahasiswa yang diterima melalui jalur prestasi. Melalui program tersebut, mahasiswa didorong untuk terus menunjukkan kemampuan dan prestasi yang menjadi salah satu modal mereka saat masuk perguruan tinggi.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa baru dalam mengembangkan gagasan dan inovasi juga akan diperkuat. Harapannya, atmosfer kompetisi dapat tumbuh sejak awal mahasiswa menempuh pendidikan di UNAIR.

"Kami mencoba mempersiapkan jauh lebih lama. Insyaallah, mulai satu tahun setelah event ini, tim kami sudah bergerak mencari talent-talent. Kami ingin atmosfer kompetisi itu tercipta di UNAIR," ungkapnya.

Berikan Apresiasi untuk Pemenang PIMNAS

Sementara itu, dalam bentuk menghargai kerja keras mahasiswa yang sudah berjuang dan meraih medali di PIMNAS, UNAIR juga akan memberikan apresiasi berupa finansial dan dukungan akademik yang tertuang dalam SK Rektor. Salah satunya, mahasiswa yang berhasil lolos pendanaan PKM dapat memperoleh fasilitas pembebasan skripsi sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia berharap, dukungan itu mampu memacu mahasiswa untuk terus mengembangkan gagasan dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

"Harapannya, mahasiswa tidak hanya mendapatkan sertifikat, tetapi juga ada apresiasi lainnya yang bisa memberikan semangat bagi mereka untuk terus berprestasi," katanya.

Keberhasilan dua tim mahasiswa UNAIR meraih medali emas ini tidak lepas dari kontribusi dosen pendamping Herdina Indrijati MPsi Psikolog dalam mengawal ide, penelitian, hingga kesiapan mahasiswa menghadapi kompetisi nasional.

"PKM menuju PIMNAS ini merupakan kompetisi dengan persiapan yang panjang. Bukan hanya satu atau dua bulan, tetapi satu tahun. Bahkan sebelum proposal diunggah, kami sudah berdiskusi intens untuk menemukan tema yang benar-benar sesuai," ungkapnya.

Selama proses pembinaan, tantangan tidak hanya berkaitan dengan substansi penelitian, tetapi juga dinamika kerja sama dan kondisi psikologis mahasiswa. Terlebih, kedua tim mengangkat isu sensitif, yakni radikalisme remaja dan feminisida atau pembunuhan perempuan.

Tantangan lainnya muncul ketika kedua tim dinyatakan lolos PIMNAS. Waktu persiapan menuju kompetisi yang hanya sekitar dua minggu membuat mahasiswa harus segera mematangkan presentasi. Namun, latihan telah dilakukan sejak awal penelitian sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi kompetisi.

"Saya sejak jauh hari selalu mengatakan kepada mereka, 'Kamu akan lolos PIMNAS'. Jadi, latihan presentasi sudah dilakukan sejak mereka mulai mengambil data. Ketika waktu persiapan sangat singkat, mereka sudah lebih siap," pungkasnya.