Sistem tersebut memiliki sejumlah fitur untuk mendukung layanan konseling sekolah, mulai dari asesmen DASS-21, konsultasi BK daring, pelaporan kasus kekerasan secara terstruktur dan anonim hingga analisis EEG untuk mendukung proses prekonseling.
Melalui analisis EEG, data neurofisiologis siswa ditampilkan dalam dashboard sebagai informasi tambahan bagi guru BK, khususnya terkait indikator konsentrasi dan regulasi emosi. Teknologi tersebut digunakan sebagai alat bantu skrining dan bukan untuk menggantikan proses konseling oleh guru.
Suranata mengatakan pengembangan SI-Konseling Pro ditujukan agar hasil riset perguruan tinggi dapat digunakan secara langsung untuk menjawab kebutuhan sekolah. "Kami ingin riset dosen tidak berhenti sebagai publikasi atau prototipe, tetapi dapat dihilirkan menjadi inovasi yang benar-benar dimanfaatkan," ujar Suranata, Senin (31/8/2026).
Selain teknologi, sistem ini memasukkan nilai Tri Kaya Parisudha, yakni manacika, wacika, dan kayika yang menekankan keharmonisan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Nilai tersebut dipadukan dengan pendekatan konseling untuk membantu siswa membangun pola pikir, komunikasi, dan perilaku yang lebih positif.