Ia menjelaskan, rekaman kondisi perairan selama satu tahun, dapat digunakan untuk mempelajari pola kemunculan hiu paus serta berbagai organisme laut lainnya.

Data tersebut juga diharapkan membantu mengidentifikasi pola kemunculan ubur-ubur, yang pada kondisi tertentu dapat mengganggu kenyamanan wisatawan karena menyebabkan rasa gatal pada kulit.

Kemunculan organisme laut, berkaitan dengan kondisi lingkungan perairan yang mendukung siklus hidupnya.

"Dengan tersedianya data kualitas air secara berkala, pola hubungan antara kondisi perairan dan kemunculan organisme tersebut dapat dipelajari lebih lanjut," katanya.

Menurutnya tidak hanya aspek biota laut, sistem deteksi ini juga berpotensi menghasilkan informasi mengenai aktivitas manusia di kawasan perairan Botubarani.

Data yang terkumpul dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan atau tingkat kemunculan sampah plastik, material yang berasal dari aktivitas pertanian, kepadatan perahu wisatawan, aktivitas pengunjung, serta kemunculan berbagai hewan laut lainnya.