NADIKABAR.COM — Bank sentral Uni Emirat Arab dan Mesir memperbarui perjanjian pertukaran mata uang masing-masing pada Selasa (29/9).

Nilai nominal kesepakatan tersebut sebesar 5 miliar dirham UEA atau 69 miliar pound Mesir (sekitar Rp24,37 triliun).

Perjanjian tersebut ditandatangani Gubernur Bank Sentral UEA (CBUAE) Khaled Balama dan Gubernur Bank Sentral Mesir (CBE) Hassan Abdalla.

Perpanjangan perjanjian itu untuk mendorong perdagangan antara kedua negara, meningkatkan kerja sama keuangan, dan mendukung perkembangan ekonomi.

"Perjanjian ini berkontribusi dalam mendukung stabilitas keuangan serta memfasilitasi kegiatan perdagangan dan investasi antara kedua negara," kata Balama.

Balama menambahkan perpanjangan perjanjian tersebut juga merupakan langkah maju dalam upaya berkelanjutan untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi bilateral.

Perjanjian itu juga sejalan dengan praktik terbaik internasional, sehingga meningkatkan ketahanan sistem keuangan di kedua negara.

Sementara itu, Abdalla menyebut perpanjangan perjanjian tersebut sebagai kelanjutan dari kerja sama erat untuk mendukung upaya bersama dalam memperkuat hubungan ekonomi.

Perjanjian tersebut menyediakan instrumen penting untuk mendorong transaksi menggunakan mata uang lokal dalam penyelesaian perdagangan dan keuangan, sehingga meningkatkan ketahanan pasar keuangan di kedua negara.

"Kami berharap langkah ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang keuangan dan investasi, dengan cara yang mendukung rencana pembangunan ekonomi di kedua negara," ujarnya.

Bank sentral UEA dan Mesir mengeluarkan pernyataan bersama pada 30 Agustus lalu untuk bekerja sama dan berkoordinasi dalam melanjutkan seluruh kegiatan di cabang Banque Misr di UEA.

Hal itu dilakukan setelah Departemen Keuangan AS pada 28 Agustus memutuskan untuk menangguhkan transaksi dolar AS di cabang bank tersebut di UEA karena dugaan keterkaitan dengan Iran.

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan