NADIKABAR.COM — Uni Eropa kembali membahas pengurangan konsumsi energi menjelang musim dingin di tengah kekhawatiran Amerika Serikat dapat menghentikan ekspor diesel ke kawasan tersebut, menurut Politico, Selasa.

Empat tahun setelah menerapkan langkah penghematan energi darurat untuk mengimbangi penghentian impor energi Rusia, negara-negara Uni Eropa kembali menghadapi kekhawatiran terkait pasokan energi.

Para menteri energi Uni Eropa dilaporkan akan membahas cara mencegah krisis energi musim dingin dalam pertemuan informal di Dublin, Irlandia, Selasa.

Menurut laporan itu, harga energi yang tinggi, tingkat penyimpanan gas yang rendah, serta ancaman Presiden AS Donald Trump untuk membatasi ekspor diesel terus menimbulkan ketidakpastian di blok tersebut.

Politico melaporkan Inggris, Ukraina, dan Norwegia juga dilibatkan dalam pembahasan tersebut.

Pada hari yang sama, Kelompok Koordinasi Minyak Uni Eropa dijadwalkan menilai dampak potensial dari kemungkinan larangan ekspor diesel AS.

Komisi Eropa mengakui Uni Eropa sangat bergantung pada AS untuk pasokan diesel, tetapi menyatakan belum terjadi kekurangan bahan bakar saat ini.

Sejak 2022, Uni Eropa menjalankan kebijakan untuk secara bertahap menghentikan impor energi dari Rusia.

Menurut Komisi Eropa, pangsa Rusia dalam impor gas Uni Eropa turun dari 45 persen pada 2021 menjadi 12 persen pada 2025. Sementara itu, pangsa Rusia dalam impor minyak turun menjadi sekitar 2 persen.

Moskow berulang kali mengatakan keputusan Uni Eropa menghentikan pasokan energi Rusia justru merugikan Eropa.

Pada September, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan negara-negara Eropa merugikan diri sendiri dengan membeli gas yang lebih mahal dibandingkan pasokan Rusia yang lebih murah.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan