Selain pusat pemantauan tersebut, dokumen itu memuat rencana pembangunan sistem untuk memantau dan memperbaiki kabel komunikasi bawah laut jika terjadi sabotase. Uni Eropa juga berencana mengembangkan pelabuhan dan bandara yang dapat mendukung pengerahan pasukan secara cepat.

Brussels berencana mengalokasikan dana sebesar 260 juta euro (sekitar Rp4,67 triliun) untuk mengembangkan teknologi militer yang dirancang khusus bagi kondisi Arktik. Teknologi tersebut mencakup pesawat yang mampu beroperasi dalam cuaca ekstrem serta sistem deteksi jarak jauh.