Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), prevalensi stunting di NTT pada tahun 2025 tercatat sebesar 20,2 persen atau sebanyak 65.336 balita dari 324.011 balita yang diukur di Posyandu.
Wakil Rektor IV Undana, Prof Philiphi de Rozari mengatakan kondisi NTT sebagai wilayah semi-arid dengan curah hujan terbatas membutuhkan pendekatan berbasis teknologi untuk mengoptimalkan produksi pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Menurut dia, riset Undana dapat diarahkan untuk mendukung program pemerintah, termasuk Badan Gizi Nasional dan program Makan Bergizi Gratis, melalui pengembangan komoditas lokal yang memiliki nilai gizi dan ekonomi.
Komoditas yang berpotensi dikembangkan, antara lain sorgum, jagung, kacang hijau, dan sapi NTT. Selain itu, sejumlah produk olahan pangan lokal, seperti jagung bose, puding kelor, susu sapi, rumput laut, dendeng, dan alpukat mentega dari Soe juga dapat dioptimalkan untuk meningkatkan asupan gizi dan pendapatan masyarakat.