"Begitu ada hujan petir, besoknya kita ke sini langsung hilang (airnya). Surut benar-benar nggak ada air lagi sama sekali, kering," tambahnya.

Menjelang musim kemarau, menurut Agung, warga setempat juga punya tradisi membersihkan sungai. Sampah-sampah yang menumpuk saat sungai kering akan dibersihkan.

"Setiap kali tradisinya warga sini itu memang sebelum mata air keluar, kita ngadain namanya bersih kali. Jadi kayak dibersihin semua dari sampah-sampah baru mata air keluar," kata Agung.

Begitu mata air kembali mengucur dan sungai mengalir deras saat kemarau tiba, warga setempat juga punya kebiasaan mengadakan sadranan. Mereka memanjatkan rasa syukur karena air kembali mengalir.

"Sadranan itu di desa kami, kita bersyukur sama yang Maha Kuasa kalau diberi mata air keluar dan kita berdoa sama leluhur biar selalu menjaga tempat ini. Terus bisa syukur-syukur bisa permanen kayak mata air lainnya," ujar Agung.

Agung mengaku warga setempat tidak mengetahui mengapa fenomena tersebut bisa terjadi. Mereka hanya meyakini bahwa Kali Odo yang justru mengalir deras saat kemarau merupakan kuasa Tuhan.