NADIKABAR.COM — Bising deru mesin penggilingan biji kedelai dan kepulan uap panas mengepul di area pabrik tahu rumahan milik Sudiarto (63). Pabrik yang sudah bekerja sejak 1997 silam itu setiap harinya mengolah ratusan kilogram kedelai menjadi ribuan potong tahu siap dikirim ke pasar-pasar terdekat.

Proses pembuatan tahu di pabrik kecil ini bermula dari penggilingan biji kedelai yang sudah direndam air ke dalam mesin jadi adonan kedelai berwarna putih. Adonan ini kemudian dengan cepat dimasak melalui pematangan yang mengandalkan tekanan uap dari ketel uap berbahan bakar kayu.

Sari kedelai (aci) yang terekstrak dari adonan tersebut kemudian disaring dan dituangkan ke dalam cetakan-cetakan papan kayu sebelum ditekan menjadi tahu siap potong. Namun di balik riuh aktivitas produksi tersebut, bayang-bayang lonjakan biaya modal kian menekan perajin.

Sudiarto mengatakan dalam beberapa pekan terakhir harga kedelai yang terus mengalami kenaikan dan kini sudah berada di angka Rp 11.500 per kilogram. Padahal, sebelumnya di awal tahun harga kedelai yang 100% impor dari Amerika Serikat (AS) ini berada di bawah Rp 10.000 per kilogram.

"Untuk kacang saat ini naik. Ya, naik Rp 10, Rp 20, tapi seminggu naik terus seperti itu. Dulu satu ton itu Rp 10.300.000, jadi sekitar Rp 11.300 per kilogram gitu ya. Sekarang sudah Rp 11.300.000 per ton, terakhir itu di kwitansinya itu Rp 11.500.000," katanya saat ditemui NadiKabar di lokasi produksi tahu miliknya.