Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat tetap melakukan urban farming di rumah atau lingkungan sekitar, tetapi menyesuaikan jenis tanaman, kondisi lingkungan, dan ketersediaan air.

Penyiraman dilakukan secara efisien, sebaiknya pada waktu yang tidak terlalu panas dan dapat menggunakan molase pertanian sebagai tetes tebu untuk mempertahankan kelembapan media.

Taufik berharap, kegiatan urban farming tidak hanya menjadi aktivitas pemanfaatan lahan kosong, tetapi menjaga ketersediaan pangan di tingkat lingkungan masyarakat.

"Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan produksi sejumlah komoditas pangan di Jakarta Timur sekaligus mengoptimalkan lahan perkotaan yang selama ini belum dimanfaatkan," ucap Taufik.