"Tidak hanya ditentukan oleh aspek pertahanan militer, tetapi juga kemampuan negara dalam menjamin kesehatan, keamanan pangan, ketersediaan obat, penguasaan teknologi, dan kualitas SDM," paparnya.
Sekolah Vokasi BPOM nantinya akan menjadi bagian dari infrastruktur ketahanan kesehatan nasional. Dengan sistem pendidikan vokasi yang fokus pada praktik, lulusan sekolah ini akan menjadi SDM yang siap menjalani fungsi pengawasan negara di bidang obat dan makanan.
Tak hanya soal Sekolah Vokasi BPOM, BPOM dan URI juga berpeluang bekerja sama dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI). Kerja sama yang dimaksud seperti pengembangan pelatihan SDM berbasis AI, riset tata kelola pengawasan obat dan makanan berbasis AI, serta pendirian pusat studi yang berfokus pada etika, regulasi, dampak, dan audit teknologi AI.
Taruna menegaskan pemanfaatan teknologi, termasuk AI, harus beriringan dengan peningkatan kualitas manusia. Untuk itu, pendidikan vokasi pengawasan obat dan makanan dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi ketahanan nasional.