Sekretaris Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Kelautan, Miftahul Huda menyampaikan pemulihan sarana produksi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu masyarakat pesisir bangkit setelah bencana.

Dengan fasilitas yang lebih memadai, para pelaku usaha garam diharapkan dapat kembali berproduksi, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperbaiki pendapatan keluarga.

"Bantuan ini tidak hanya berupa bangunan yang lebih kokoh dan permanen, tetapi juga dilengkapi fasilitas tungku dan wajan perebusan dengan kapasitas lebih besar dari sebelumnya, drum penampung air tua, gerobak dorong, sekop pasir, serta penggaruk pasir. Dengan dukungan sarana tersebut, kami berharap produktivitas dan hasil produksi garam masyarakat dapat meningkat," ujar Huda.

Peningkatan kapasitas produksi mulai terlihat dari perbandingan hasil produksi sebelum dan sesudah bantuan. Berdasarkan laporan produksi salah satu unit dapur perebusan, kapasitas yang sebelumnya berkisar 20-30 kilogram dalam satu kali proses perebusan meningkat menjadi sekitar 70-120 kilogram.

Dengan rata-rata dua kali proses perebusan per hari, satu unit dapur tersebut mampu menghasilkan sekitar 1,4 ton garam per minggu.

Capaian ini menunjukkan potensi peningkatan produktivitas yang signifikan melalui dukungan sarana produksi yang lebih memadai, meskipun hasil produksi setiap dapur dapat berbeda bergantung pada kondisi dan kapasitas masing-masing.

Dari sisi ekonomi, garam hasil perebusan masyarakat dilaporkan memiliki kisaran harga Rp 3.000-6.000 per kilogram, sementara harga pasar rata-rata berada pada kisaran Rp 6.000-9.000 per kilogram.