"Jumlah inovasi yang sangat besar" di China juga menjadi faktor penting lainnya," ujar Stein, seraya menyebut China sebagai salah satu tempat paling inovatif di dunia.

"Dulu, masa depan mungkin lebih sering dibentuk di Jepang, AS, atau Eropa. Namun, kini semakin banyak bidang yang menunjukkan bahwa masa depan sedang diciptakan di China. Jika Anda ingin melihat masa depan, satu-satunya tempat untuk menyaksikan hal itu adalah dengan berada di sini (China)," katanya.

Stein meyakini bahwa penting bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mempertahankan keberadaan mereka di China guna melakukan penelitian dan pengembangan mereka sendiri.

"Ada begitu banyak inovasi yang sedang terjadi di China, dan penting untuk berada di lapangan guna melihat dan memahami inovasi tersebut, serta memanfaatkan kualitas tinggi dari para pekerja dan penelitian China," katanya.

Stein mengungkapkan bahwa di sektor ilmu hayati, misalnya, inovasi di Tiongkok sedang menciptakan banyak peluang baru bagi kerja sama AS-China, dengan banyak inovasi emerging di berbagai bidang seperti penemuan obat dan pengobatan kanker.

"Dalam banyak kasus, perusahaan-perusahaan China yang unggul dalam mengidentifikasi molekul-molekul potensial yang dapat digunakan dalam pengobatan atau obat baru belum memiliki cukup pengalaman untuk memahami cara melakukan uji klinis, cara memperoleh persetujuan global untuk obat-obatan baru, atau cara meningkatkan skala produksi, sehingga hal tersebut menciptakan kemitraan yang sangat alami antara sejumlah perusahaan yang sedang berkembang di Tiongkok dan sejumlah perusahaan mapan di tingkat global," ujarnya.