"Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu, Pak, dengan melakukan impor, ya, itu kereta-kereta yang tidak baru. Yang memang secara historis ini bagus, kemudian sudah melakukan refurbishment Pak, kayak pesawat-lah gitu," jelas Bobby.
Merespons itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade merespons usulan itu. Lewat kesimpulan rapat, Andre mendukung langkah KAI.
"Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian khususnya KRL Jabodetabek dengan meningkatkan industri lokal dan melakukan impor rangkaian kereta dan set bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan," ucap Andre membaca kesimpulan rapat.
Namun demikian, Andre meminta agar sinergi dengan PT INKA tetap diperkuat. Sehingga, kata dia, PT INKA tetap bisa bersaing.
"Melakukan pengadaan sarana bukan baru sebagai solusi transisi dengan tetap memperkuat sinergi bersama PT INKA dengan meningkatkan (TRL) teknologi readiness level dan manufacturing readiness level PT INKA secara proper level 9 dalam kapasitas kualitas teknologi dan daya saing industri nasional," ujar dia.
Kapoksi PKB Komisi VI DPR, Rivqy Abdul Halim, menyoroti rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI yang kembali mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bekas pakai. Rivqy meminta rangkaian kereta yang didatangkan ke Indonesia harus aman dan laik untuk digunakan.
"Kalau pemerintah memutuskan impor KRL, jangan sekadar berpikir bagaimana kereta bisa cepat datang. Yang harus dipastikan adalah apakah kereta tersebut benar-benar aman, laik operasi, sesuai dengan kondisi infrastruktur kita dan memberikan kenyamanan kepada penumpang," kata Rivqy kepada wartawan, Sabtu (26/9).