Rivqy meminta pemerintah memperhatikan aspek keselamatan, kelaikan teknis, kesesuaian dengan infrastruktur dan sistem persinyalan. Kendati demikian, ia juga menekankan impor tak boleh justru melemahkan industri perkeretaapian nasional.
"Jadi solusinya bukan sekadar menambah kereta. Kita harus membangun ekosistem transportasi KRL yang kapasitasnya memadai, aman, nyaman, tepat waktu, dan mampu mengantisipasi pertumbuhan penumpang ke depan," ujarnya.
Rivqy juga menyoroti jumlah penumpang KRL Jabodetabek yang mencapai 1,1 juta per hari di tahun ini. Ia berharap ada penambahan armada untuk mengakomodasi penumpang tanpa mengesampingkan keselamatan dan keamanan.
"Kami melihat kondisi saat ini, KRL sudah amat sangat padat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi ini tentu tidak nyaman bagi masyarakat. Karena itu, kami mendorong adanya penambahan jumlah KRL agar kepadatan bisa dikurangi. Tetapi penambahan armada harus dibarengi dengan peningkatan standar keselamatan dan kenyamanan penumpang," kata Rivqy.
Ia berharap KAI mencari solusi jangka panjang menindaklanjuti kepadatan penumpang KRL yang terus bertambah. Menurutnya, KRL Jabodetabek sudah menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat dengan biaya yang relatif terjangkau.
"Artinya, kebutuhan terhadap transportasi massal berbasis rel terus meningkat. Kepadatan tidak bisa terus dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima masyarakat. Negara harus hadir memastikan pertumbuhan jumlah penumpang diikuti pertumbuhan kapasitas layanan," tegasnya.