NADIKABAR.COM — Institute of International Finance (IIF) mencatat utang global naik US$ 10 triliun atau sekitar Rp 179,14 kuadriliun (kurs Rp 17.914/US$) semester I-2026. Alhasil, total utang global sepanjang semester I-2026 tercatat sebesar US$ 365 triliun.

Dikutip dari CNBC, kenaikan utang negara terjadi bersamaan dengan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah jangka menengah dan panjang di sejumlah negara ekonomi besar, seperti AS, Jepang, Prancis, dan Inggris.

Imbal hasil tersebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap suku bunga, biaya energi yang masih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lesu, dan tingginya belanja pemerintah.

IIF secara khusus menyoroti sejumlah hal ekonomi utama yang dinilai menghadapi defisit besar yang terus berlangsung dan biaya bunga yang semakin tinggi. Menurut IIF, kondisi tersebut selama ini sering dikaitkan dengan negara berkembang yang mengalami masalah utang.

Lembaga yang berbasis di Washington itu mencatat negara-negara maju membayar bunga lebih dari US$ 3,3 triliun atas obligasi pemerintah yang diperdagangkan secara internasional sepanjang tahun lalu. Angka tersebut lebih besar dibandingkan pengeluaran global untuk AI yang mencapai US$ 2,6 triliun, belanja pertahanan US$ 3,1 triliun, maupun investasi energi bersih sebesar US$ 2,3 triliun.