"Artinya, bisa disimpulkan bahwa surut laut pada tanggal 6 September 2022 itu tidak ada kaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau," tegasnya.
Athanasius menyatakan memang pasang surut air laut merupakan indikator awal tsunami, tetapi tidak selalu berujung bencana tersebut. Namun, ia menjelaskan ada perbedaan pola pasang surut pertanda tsunami yang terjadi lebih cepat dan lebih jauh.
"Satu, surut laut dia berlangsung dengan sangat cepat, artinya surut dengan sangat cepat dan jauh lebih jauh daripada surut normal, surut pasang surut biasa," katanya.
Pertanyaan yang banyak ditanyakan masyarakat lainnya adalah 'apakah Gunung Anak Krakatau bisa memicu tsunami?'. Athanasius menjawab bahwa Anak Krakatau bisa memicu tsunami.
Seperti yang pernah terjadi pada Desember 2018 lalu. Saat itu, erupsi Gunung Anak Krakatau menyapu pantai barat Banten dan Kalianda, Lampung.
Ia juga menceritakan bahwa gunung sebelumnya yakni Krakatau pernah mengalami letusan yang dahsyat. Bahkan menyebabkan tsunami setinggi 22 meter.