"Sebelumnya, tsunami yang paling besar yang pernah terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau adalah pada tahun 1883, saat itu namanya adalah Gunung Krakatau. Erupsi pada tanggal 26 Agustus 1883 dan memicu terjadinya tsunami di Teluk Betung setinggi 22 meter, di pantai barat Banten sekitar Carita dan Anyer sekitar 15 meter, bahkan di Tanjung Priok Jakarta tercatat adanya kenaikan air sekitar 1,8 meter," tuturnya.
Badan Geologi menegaskan, sejak tahun 2018 hingga sekarang pihaknya tidak menemukan adanya indikasi bahwa Gunung Anak Krakatau akan meletus besar sehingga merobohkan sebagian tubuhnya dan memicu terjadinya tsunami.
Jika Anak Krakatau mengalami erupsi kembali, Athanasius memberikan beberapa langkah mitigasi yang harus dilakukan seperti menjauhi segala aktivitas dalam radius 3 km dari pusat letusan.
Kemudian, tetap waspada, tetap tenang, tapi tidak termakan oleh hoaks dan informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya.
"Untuk mengetahui informasi lebih jauh mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun aktivitas gunung berapi lainnya, kita dapat memantau magma Indonesia maupun situs Badan Geologi," tutup Athanasius.