Misalnya, saat masih anak-anak, keterlibatan orang tua dalam pendidikan biasanya hampir 100 persen. Namun, ketika masuk sekolah menengah, intervensi menjadi berkurang.
"Ketika masuk SMP, intervensi ortu semakin berkurang karena anak sudah punya pengetahuan dan nilai meski sangat terbatas. Demikian juga, ketika masuk SMA anak bisa menentukan pilihan sendiri dengan pertimbangan minimalis dari orang tua," katanya kepada detikEdu, Rabu (2/9/2026).
Saat anak akan masuk perguruan tinggi, lanjut Subarsono, anak memiliki otonomi semakin besar dalam memilih bidang studi yang diminati. Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai fasilitator.
Pada masa ini, orang tua disarankan untuk tidak terlalu ikut campur. Sebab ketika anak sudah punya pilihan tapi orang tua memaksakan jurusan tertentu, hasilnya untuk anak menjadi tidak optimal.
"Setiap anak memiliki pengetahuan, karakter dan talenta yang berbeda. Demikian juga, dia punya mimpi yang berbeda dengan mimpi ortunya. Berikan ruang bagi anak dalam mengejar mimpinya sendiri, jangan dipaksa mengejar mimpi otunya," ujar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) tersebut.
Merespons ramainya orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke bimbel, Subarsono menilai ada persoalan mengenai kepercayaan orang tua dalam pembelajaran di sekolah.
Ia mencontohkan, banyaknya siswa SMA yang masuk bimbel untuk persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Ini mengindikasikan bahwa mereka belum percaya bahwa pembelajaran di sekolah cukup untuk mengantarkan masuk kampus impian.