Di sisi lain, ada persoalan kondisi guru yang sering dibebani mengejar target menyelesaikan materi. Sementara anak-anak di kelas belum tentu sudah memahami materinya.
Pada akhirnya, muncul keyakinan bahwa anak menjadi siap menghadapi tes masuk perguruan tinggi setelah dilatih soal-soal di bimbel. Faktor lain juga sering muncul, yakni obsesi orang tua agar anaknya bisa masuk kampus tertentu.
"Obsesi yang terlalu besar dari orang tua untuk mencetak anak-anaknya seperti mimpinya, dan lupa bahwa anak memiliki mimpi sendiri. Dalam hal ini anak dijadikan obyek bagi pemenuhan obsesi orang tua," ungkap Subarsono.
Menurutnya, banyak orang tua menganggap bahwa pendidikan formal perguruan tinggi adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan hidup. Padahal pada era teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) sekarang, orang bisa sukses melalui training atau belajar sendiri.
Subarsono berpendapat bahwa tugas orang tua seharusnya adalah mendengarkan kebutuhan anak dan sebagai teman dialog atau berdiskusi. Selanjutnya orang tua sebagai fasilitaor bagi pendidikan anak, memberikan kesempatan mengikuti kursus, membaca, olahraga, seni, atau kegiatan lainnya, bukan hanya bimbel.
"Tugas lain ortu adalah mendukung kemandirian anak. Semakin dewasa, anak perlu diberi ruang untuk mengambil keputusan pendidikan dan orang tua berperan sebagai penasihat serta pendamping," paparnya.
"Terakhir, ortu perlu berkolaborasi dengan sekolah/kampus untuk mengetahui perkembangan akademik, perilaku, minat, dan masalah yang dihadapi anak. Jangan menyerahkan keberhasilan anak seratus persen pada sekolah," pungkasnya.