Kemudian, lakukan regulasi diri sebelum bereaksi. Berhenti sejenak, bernapas, mengenali apa yang dirasakan, lalu tentukan respons. Selanjutnya, ubah awareness menjadi action.
"Bila memungkinkan, bantu melalui donasi, dukungan, menyebarkan informasi yang terverifikasi, menjadi relawan, atau sekadar memberikan ruang bagi suara mereka yang terdampak," tutur dr Lahargo.
Terakhir, berhati-hati saat membuat konten di ruang publik. Sebuah pesan mungkin dimaksudkan sebagai self-care, tetapi pada akhirnya dapat diterima secara berbeda oleh masyarakat yang sedang berada dalam situasi kehilangan atau trauma.
"Dalam komunikasi publik, intention penting, tetapi impact juga perlu diperhatikan," ungkapnya.