BMKG mengungkap, secara meteorologis, keberadaan asap dalam jumlah besar dapat memengaruhi bagaimana cahaya Matahari melewati atmosfer. Menurut Ida, asap karhutla mengandung partikel yang berukuran sangat kecil atau aerosol, sehingga saat konsentrasinya tinggi dapat membentuk lapisan asap tebal sehingga dapat mengubah proses hamburan dan penyerapan cahaya Matahari.
"Dalam kondisi tersebut, sebagian cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, seperti biru dan hijau, mengalami hamburan dan pelemahan yang lebih besar. Akibatnya, komponen cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah dan oranye menjadi lebih dominan sampai ke mata pengamat," kata Ida.
Oleh karena itu, menurut BMKG, efek tersebut dapat membuat warna merah hingga oranye terlihat lebih mencolok di langit.
"Efek tersebut dapat semakin kuat ketika posisi Matahari relatif rendah karena cahaya Matahari harus menempuh lintasan yang lebih panjang di atmosfer. Karena itu, kombinasi antara tingginya konsentrasi aerosol asap, ketebalan lapisan asap, posisi Matahari, kelembapan udara, serta karakteristik partikelnya dapat menyebabkan langit terlihat merah hingga oranye secara lebih mencolok," tambahnya.
Menurut BMKG, fenomena tersebut dapat disebut sebagai fenomena optik atmosfer. Fenemena tersebut diakibatkan interaksi cahaya matahari dengan aerosol atau partikel asap yang berada di atmosfer.
"Pada atmosfer normal pun warna kemerahan dapat muncul ketika Matahari berada rendah di horizon. Namun, ketika atmosfer mengandung aerosol asap dalam konsentrasi sangat tinggi seperti yang terpantau di Paduran Sebangau, proses hamburan dan penyerapan cahaya dapat menjadi jauh lebih kuat sehingga warna merah atau oranye terlihat semakin dominan, bahkan langit dapat tampak lebih gelap dari biasanya," ujar BMKG.