Meski demikian, dia menegaskan bahwa mahasiswa yang berjoget itu tidak dalam keadaan mabuk.

"Tidak (mabuk). Itu murni anak bersuka ria. Jika kita tarik garis kalau kita samakan seperti nonton konser. Tapi kami salahnya memang tempatnya di Pendopo," kata dia.

"Pendopo itu memang tempat untuk sajian yang sesuai peruntukannya, misal tari, karawitan. Pendopo itu sendiri konsep Jawa, berarti sajian yang tepat di situ tradisi dan budaya Jawa. Kemarin ada moshing dengan memegang gamelan, dan mungkin ada beberapa pihak yang merasa tidak tepat, kalau melihatnya pada satu visual saja. Dalam konteks keseluruhan sebetulnya dalam satu acara itu gamelan diperlakukan sebagaimana mestinya. Pendopo juga digunakan sebagaimana mestinya, tari-tarian seperti itu. Di penghujungnya, closing bebas itu pada naik ke panggung," tambahnya.

Esha menambahkan, panitia akan lebih teliti lagi dalam menyeleksi kegiatan mahasiswa. Sebab, pihaknya merasa kecolongan atas kejadian tersebut.

"Kita sudah ada standarisasi. Tapi itu moment di akhir, jadi agak kecolongan juga. Sebenarnya di Pendopo kita peruntukan untuk hal-hal yang formal. Aturan baru membuat saya selaku panitia akan lebih selektif. Saya lihat di rundown-nya normal saja. Itu sesuatu di luar kendali yang muncul spontan. Bukan sesuatu dalam acara," pungkasnya.