"Mau mukul, mau mukul, kan saya menghindar. HP di atas, diambil HP," ujar Hendriani.
Hendriani menjelaskan, dirinya berinisiatif merekam menggunakan ponsel lantaran pelaku sudah mengamuk sejak berada di area kantor sekolah.
"Saya ambil HP kemudian saya video karena udah ngamuk dari sana. Makanya kena (terekam) videonya di sini. Terus HP dirampas," ucapnya.
Situasi semakin memanas ketika ponsel milik Hendriani dirampas oleh pelaku. Beruntung, ada pertolongan dari satpam sekolah yang berada di lokasi sehingga ponsel berhasil direbut kembali meski pelaku sempat melayangkan pukulan balik.
"Direbut kembali karena dia dihalang sama Pak Gagas, kemudian dia berontak lagi mau mukul saya. Tangannya ke atas, diambil lagi gitu," terang Hendriani.
Sering Minta Uang dengan Berbagai Alasan
Menurut Siti Julaeha, tindakan pemerasan yang dilakukan oleh oknum wartawan tersebut ternyata bukan kali pertama terjadi. Selain uang langganan bulanan Rp 100 ribu, pelaku disinyalir kerap meminta uang tambahan di luar ketentuan resmi.
"Kadang di luar itu juga sering meminta uang gitu. Ya dengan berbagai alasan, minta anting buat anaknya lah. Kadang orang tuanya misalnya mau 40 hari atau haul orang tuanya, atau misalnya dia mau hajat," ungkap Siti.
Siti menegaskan bahwa pihak sekolah menolak permintaan uang di luar ketentuan tersebut karena tidak dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi anggaran sekolah. Ternyata, keluhan serupa juga dirasakan oleh banyak sekolah lain di wilayah tersebut.