NADIKABAR.COM — Februari 1858, di sebuah gubuk di Dodinga, Halmahera, antropolog ternama Alfred Russel Wallace terbaring dengan tubuh yang bergantian menggigil dan berkeringat. Malaria menahannya berhari-hari di desa kecil yang dikepung bukit rendah itu.
Di sela demam, gagasan tentang seleksi alam melintas di kepalanya, lalu ia tulis dan kirimkan kepada Charles Darwin di Inggris.
Makalah itu bertanda Ternate, sehingga dunia mengira teori evolusi lahir di pulau rempah tersebut. Jurnal lapangan Wallace yang tersimpan di Linnean Society London mencatat hal lain: sepanjang Februari ia berada di Halmahera, sakit, dan baru kembali ke Ternate pada 1 Maret. Untuk demamnya, juga demam para pembantunya, ia mengandalkan kina.
Seabad kemudian, malaria masih menjadi musuh terbesar kesehatan negeri yang baru merdeka. Pada 12 November 1959, Presiden Soekarno menyemprotkan DDT (pestisida sintetis) di rumah warga Desa Kalasan, Yogyakarta, menandai dimulainya pembasmian malaria secara nasional.