Sebelumnya, dunia sudah punya dua vaksin malaria yang direkomendasikan WHO, RTS,S dan R21. Keduanya dirancang untuk Plasmodium falciparum, jenis parasit paling mematikan yang mendominasi Afrika, dan tidak melindungi dari parasit malaria lain bernama Plasmodium vivax, penyebab sakit terbanyak di Asia Tenggara.
Arif menyebut parasit malaria di Indonesia memiliki karakter yang agak berbeda, dan vaksin untuk vivax belum tersedia di mana pun. Karena itu, Presiden menekankan soal apa yang bisa Indonesia sumbangkan bagi dunia.
Bagi Papua, celah itu terasa sangat dekat. Studi di Timika pada 2004-2005 mencatat 37 persen kasus malaria terkonfirmasi disebabkan vivax, dan pada bayi di bawah satu tahun vivax murni justru menjadi penyebab terbanyak. Vivax yang kebal klorokuin pertama kali dilaporkan dari Papua pada 1989, dan kawasan ini kemudian dikenal dengan tingkat vivax resisten obat tertinggi di dunia.
Penelitian lanjutan di rumah sakit Timika bahkan mengaitkan vivax multiresisten dengan malaria berat hingga kematian, terutama pada anak kecil. Selama puluhan tahun vivax dianggap malaria yang jinak. Dari Papua, anggapan itu dikoreksi.