NADIKABAR.COM — Produsen otomotif asal Swedia, Volvo Cars secara resmi telah merekrut petinggi terbarunya yakni Klaus Zellmer sebagai Presiden dan CEO baru untuk mengatasi masalah yang tengah mereka hadapi saat ini.
CarsCoops pada Senin (21/9) waktu setempat, melaporkan bahwa Mantan CEO Skoda Auto tersebut mendapat tugas besar mengawal strategi peluncuran 13 model baru sekaligus memperkuat kembali kinerja dari Volvo.
Zellmer menggantikan kursi Hakan Samuelsson dan dijadwalkan mulai menjalankan tugas paling lambat 1 Oktober 2027. Samuelsson akan bekerja bersama jajaran direksi, untuk memastikan proses transisi berjalan mulus.
Penunjukan tersebut, datang hanya beberapa hari setelah Volvo mengumumkan strategi produk besar hingga 2030.
Perusahaan berencana menghadirkan 13 model baru dalam empat tahun, dengan tujuh model ditujukan untuk pasar Barat dan enam lainnya dikembangkan untuk China.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Volvo, dalam menggandakan pangsa pasar sekaligus meningkatkan profitabilitas.
Perusahaan, menargetkan margin sebelum pajak meningkat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi lebih dari 8 persen.
Tantangan Zellmer bukan hanya memperbanyak produk. Volvo juga tengah menata kembali strategi elektrifikasi dengan memberikan ruang lebih besar, bagi kendaraan hybrid di tengah perubahan permintaan pasar terhadap mobil listrik.
Di bawah kepemimpinan barunya, Volvo juga akan memperdalam kerja sama dengan Geely, perusahaan asal China yang menjadi pemegang saham mayoritas Volvo Cars.
Penggunaan komponen bersama dengan Geely, ditargetkan mencapai 30 persen pada 2030 dan diproyeksikan membantu menurunkan biaya material sekitar 5 persen.
Zellmer membawa pengalaman lebih dari 30 tahun di industri otomotif. Sebelum ditunjuk memimpin Volvo, ia menjabat CEO Skoda Auto.
Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi senior di Porsche, termasuk sebagai CEO Porsche Deutschland dan Porsche North America.
Pergantian pucuk pimpinan ini berlangsung ketika Volvo menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari tarif Amerika Serikat, melemahnya penjualan di China hingga tingginya biaya pengembangan kendaraan.
Volvo, saat ini juga tengah menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan penggunaan teknologi China dengan kebutuhan mempertahankan akses ke pasar Barat.
Bagi Zellmer, tugas berikutnya bukan sekadar memimpin Volvo memasuki era baru, tetapi memastikan strategi 13 model tersebut mampu mengubah arah bisnis perusahaan menuju pertumbuhan yang lebih kuat.