NADIKABAR.COM — Kementerian Pertahanan menggelar Workshop Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dalam forum ini, Pemkab Gowa dan Kemhan menegaskan kembali hakikat bela negara di era modern.

Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin menegaskan bela negara tidak sebatas peperangan atau tugas TNI-Polri. Menurutnya, bela negara merupakan kewajiban seluruh warga untuk menjaga keamanan, kerukunan, dan kemajuan bangsa.

"Bela negara bukan hanya perang. Hakikatnya bagi kami adalah bagaimana melihat bangsa ini maju dan berkembang, menjaga kelestarian kehidupan berbangsa serta menjaga kerukunan antardaerah," ujar Darmawangsyah dalam keterangannya.

Ia kemudian mengapresiasi peran pemerintah desa/kelurahan serta sinergi TNI-Polri menjaga ketenteraman Gowa. Dia jga menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung keberlanjutan program ini hingga tingkat kecamatan.

"Kami di Kabupaten Gowa bergembira dan merasa tersanjung kegiatan ini dilaksanakan di Gowa. Kami berharap program seperti ini ke depan bisa dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota, bahkan sampai di kecamatan," kata Darmawangsyah.

Sementara itu, Kepala Pusat Bela Negara Badiklat Kemhan, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, menyebut bela negara sebagai panggilan jiwa seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan nonmiliter, seperti disinformasi dan ruang siber.

"Bela negara bukan tanggung jawab Kementerian Pertahanan, TNI atau Polri. Ini merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah kabupaten dan seluruh masyarakat," kata Parluhutan.

"Bela negara adalah panggilan hati dan panggilan jiwa. Kita hidup di negara ini, kita memiliki rasa memiliki. Gowa ini milik kita dan berharga. Bagaimana kita menjaga Gowa tetap aman dan tenteram," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya karakter dan literasi digital generasi muda di tengah meluasnya arus informasi media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

"Era sekarang sudah berbeda. Generasi kita sudah masuk dalam pembelajaran media digital yang hampir tidak terkontrol dan tidak terkendalikan, baik oleh guru maupun orang tua. Karena itu, membangun karakter pada era kekinian sangat sulit dibandingkan zaman dulu," katanya.