"Untuk tanah yang dulunya tenggelam dan sekarang muncul lagi, airnya mengambil dari aliran sungai pakai alat, seperti diesel ataupun pompa untuk mengairi lahan yang sekarang dimanfaatkan," katanya.

Penggunaan alat tersebut otomatis menambah biaya yang harus dikeluarkan petani. Meski demikian, Agung menyebut tidak semua lahan bekas genangan bisa kembali produktif seperti sebelum menjadi bagian dari waduk.

"Iya, benar, jadi tambah modal. Tapi potensinya memang sedikit. Tanah-tanah sebagian itu sudah tidak seperti dulu sebelum tenggelam. Dulu masih persawahan dan lain sebagainya, sekarang cuma sedikit saja," terangnya.

Selain persoalan air, warga juga tidak bisa lagi mengandalkan jaringan irigasi lama. Saluran irigasi yang sebelumnya digunakan sebelum kawasan tersebut tergenang kini disebut telah mengalami kerusakan.

"Irigasi yang dulu, sebelum wilayah itu tenggelam, sekarang sudah rusak semua," pungkas Agung.