"Yang tidak kita rasakan itu adalah climate crisis. Karena apa? Datangnya itu lama, pelan-pelan.Kita tidak merasa hal itu berubah, tiba-tiba kita sudah berada di dalam kondisi yang boleh dibilang akut sekali. Ini yang menyebabkan pentingnya sosialisasi dan pemahaman bersama yang diperluas terkait permasalahan krisis iklim ini," tuturnya.
Di sisi lain, Eddy menyampaikan sisi kabar baiknya, krisis iklim telah menghidupkan gerakan global yang mendorong transisi energi. Bahkan negara-negara di dunia berlomba-lomba melaksanakannya. Seluruh negara di dunia bermasalah ketika menggunakan energi fosil, jadi peralihannya cepat.
Selain itu, biaya investasi untuk transisi energi, terutama di sektor kelistrikan, menjadi jauh lebih murah. Kalau kita bicara panel surya, beli panel surya di rumah 5 tahun yang lalu dengan sekarang biayanya mungkin terpangkas hingga 80 persen jauh lebih murah.
"Dan ini karena teknologi, ke depannya akan semakin murah dan semakin cost-efficient lagi. Kemudian peningkatan energi terbarukan, perkembangan dunia mencatat bahwa tahun lalu, untuk pertama kalinya, 50 persen pasokan energi dunia datang dari sumber non-fosil (sumber-sumber energi terbarukan). Ini perkembangan yang sangat positif," sambungnya.