"Kita tidak bisa menutup mata. Jika kita ingin bersaing, kualitas SDM kita harus melompat. Ketertinggalan ini menuntut reformasi pendidikan yang tidak setengah-setengah, dari hulu hingga hilir," jelasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya memastikan anggaran pendidikan benar-benar berdampak pada peningkatan mutu. Selain itu, efektivitas penggunaan anggaran, jangkauan bagi kelompok rentan, serta ketepatan skema pembiayaan perlu terus dievaluasi.
Menurutnya, ukuran keberhasilan perbaikan pendidikan tidak cukup dilihat dari peringkat indeks makro, tetapi harus dibuktikan dengan capaian kompetensi lulusan.
Hal ini terlihat dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang masih berada di bawah rata-rata OECD, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi yang belum optimal, serta masih tingginya angka pengangguran terbuka lulusan SMK dan SMA.
"Pendidikan inklusif dan berkualitas adalah kunci peningkatan daya saing bangsa. Setiap anak Indonesia harus memiliki kompetensi yang relevan, bukan hanya sekedar ijazah, tetapi keterampilan yang bisa bersaing di panggung global," pungkasnya.