Menurut Wijayanto, BMKG juga mencatat tingkat guncangan gempa untuk memperkirakan tingkat kerusakan dampak guncangan gempa yang terjadi.
Wijayanto mengungkapkan bahwa BMKG juga memverifikasi data yang tercatat dengan kondisi di lapangan pada saat gempa Flores, NTT terjadi.
Selain itu, jelas dia, BMKG juga berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, seperti BNPB, Pemda, dan masyarakat untuk menyosialisasikan kondisi yang terjadi, sebagai bagian upaya meredam ancaman berita hoax terkait bencana.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB Agus Riyanto mengungkapkan bahwa dalam menghadapi ancaman dampak bencana, BNPB berupaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Menurut Agus, sepanjang 2026, hingga 25 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.587 bencana terjadi dengan dominasi bencana pada bencana hydrometeorogi, dengan bencana geologi tercatat 14 kejadian.
Dengan jumlah bencana tersebut, jelas Agus, Indonesia menempati peringkat 3 dari 193 negara yang rawan bencana.
Menurut Agus, risiko bencana sangat tergantung dari faktor besar kecilnya ancaman bencana, kapasitas masyarakat dan lembaga dalam memahami bencana, serta besar kecilnya kerentanan yang ada.
Sehingga, tegas Agus, untuk membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, ketiga faktor yang membentuk risiko bencana tersebut harus benar-benar dicermati dan dipahami dengan baik oleh semua pihak, termasuk masyarakat luas.
Menurut Agus, diperlukan perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana menjadi lebih mengedepankan upaya preventif, multi sektoral, dan mewujudkan tanggung jawab semua pihak (pentahelix), untuk membangun masyarakat yang tangguh dalam menghadapi bencana.
Peneliti Senior Bidang Gempa Bumi dan Tsunami, BRIN, Nuraini Rahma Hanifa berpendapat bahwa besar kecilnya dampak yang terjadi tergantung dari kesiapan kita dalam menghadapi potensi dampak gempa.
Peta sumber-sumber gempa yang dirilis BMKG, ujar Nuraini, diteliti sebagai bagian upaya antisipasi potensi gempa di masa datang.
Sejumlah langkah antisipasi itu, jelas dia, merupakan bagian dari upaya membangun kesiapan masyarakat.
Bila dilihat dari kerusakan bangunan yang terjadi pada gempa Flores, Nuraini berpendapat, sebaran kerusakan yang terjadi sesuai peta sebaran gempa yang ada.
Untuk menekan risiko, tegas dia, perlu direalisasikan bangunan tahan gempa di wilayah-wilayah rawan gempa.
"Gempa itu sejatinya fenomena alam, bencana terjadi bila manusia yang hidup di tengah fenomena alam itu tidak siap mengantisipasi dampaknya," ujar Nuraini.
Kejadian gempa di Flores, menurut Nuraini, harus menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan wilayah urban dan padat penduduk dalam mengantisipasi ancaman dampak gempa di Tanah Air.