Wartawan Media Indonesia di Nusa Tenggara Timur Marianus Marselus mengungkapkan bahwa korban gempa Flores yang tewas tercatat 103 jiwa dan didominasi kelompok rentan, anak, perempuan, dan lansia.
Saat ini, ujar Marianus, tercatat 185 rubu orang hidup di pengungsian pascagempa.
Menurut Marianus, gempa dengan kekuatan 7,7 magnitudo itu bukan hanya soal kekuatannya, tetapi juga bagaimana kita memiliki sistem yang mampu mengantisipasinya dengan baik.
Selain itu, ujar dia, peringatan dini kerap kali tidak sampai ke masyarakat karena infrastruktur komunikasi tidak tersedia di sejumlah wilayah.
Sehingga, tambah Marianus, diperlukan penguatan sistem informasi dan infrastruktur yang memadai di NTT untuk membangun kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana di masa datang.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Erma Yulihastin berpendapat bahwa dalam menganalisis gempa di tanah air sebaiknya juga mengaitkan dengan gempa-gempa yang terjadi sebelumnya di negara lain.
Apalagi, menurut Erma, wilayah-wilayah tersebut masih berada di sekitar lempeng Pasifik yang akhir-akhir aktif bergerak.
Menurut Erma, dimungkinkan terjadinya gempa utama kedua pada rangkaian gempa yang terjadi di Flores, karena hingga saat ini masih terjadi gempa.
Wartawan senior Usman Kansong berpendapat bahwa masyarakat Indonesia hidup di atas ring of fire yang terdiri dari lempeng dan sesar aktif sehingga menjadi negara rawan gempa dan bencana.
Hingga saat ini, ujar Usman, kejadian gempa belum bisa diprediksi.
Pada kejadian gempa, tegas Usman, masyarakat yang menjadi korban kerap bukan karena gempa itu sendiri, tetapi karena tertimpa bangunan yang dihuninya.
Berdasarkan hal tersebut, sejatinya kita bisa melakukan sejumlah hal yang disebut mitigasi bencana dan mitigasi gempa, untuk mengurangi risiko akibat gempa atau bencana.
Setidaknya, menurut Usman, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk memitigasi gempa. tim redaksi lain, tambah dia, di zona merah yang rawan bencana harus tegas dilarang mendirikan bangunan.
Bila harus membangun di zona merah, harus bangun rumah dengan konstruksi tahan gempa. Misalnya rumah panggung sesuai kearifan lokal atau rumah modular hasil rekayasa BRIN yang sudah terbukti tahan gempa.
Selain itu, kita harus konsisten melakukan simulasi atau latihan bagaimana mengurangi risiko ketika terjadi gempa. "Umumnya kita baru giat berlatih ketika sudah terjadi gempa. Ketika situasi sudah aman kita sering lupa," ujar Usman
Lihat Video 'Korban Gempa NTT Dapat Bantuan Perbaikan Rumah, Mulai Rp 15-30 Juta':