Adapun jenis infrastruktur yang akan dikembangkan meliputi tanggul laut, tanggul pantai , serta pendekatan berbasis alam seperti konservasi mangrove.
Urgensi pembangunan giant sea wall sebagai langkah strategis nasional untuk menjawab berbagai tantangan serius di kawasan pesisir.
Kondisi pantura saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan akibat meningkatnya frekuensi banjir rob, penurunan muka tanah, serta dampak perubahan iklim berupa kenaikan permukaan air laut.
Wilayah yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur itu dihuni oleh sekitar 50 juta penduduk dan menyumbang 38 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Adapun kawasan ekonomi dan industri yang terbentang di pantura terdiri atas 70 kawasan industri dan lima kawasan ekonomi. Pantura Jawa juga menjadi bagian penting dari poros logistik nasional di mana sejumlah pelabuhan penting dan bandara, seperti Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Emas, dan Bandara Ahmad Yani.
Tidak hanya kawasan ekonomi, industri dan permukiman, giant sea wall juga dibutuhkan untuk melindung lumbung-lumbung sawah di pantura yang selama ini menjadi salah satu sumber ketahanan pangan nasional.
Secara keseluruhan, pembangunan giant sea wall tersebut direncanakan memiliki panjang sekitar 575 kilometer dan dibagi menjadi 15 segmen.
Pembangunan proyek tersebut ditargetkan mulai dikerjakan pada awal 2027 dan telah mendapat minat dari pihak yang bersedia mendanai proyek tersebut.
Pemerintah menekankan pembangunan itu sebagai proyek jangka panjang dan penyelesaiannya membutuhkan waktu berbeda di setiap wilayah.