“(PLTS atap) dapat mengurangi beban APBN. Agar kita bisa melakukan itu dibiayai oleh masyarakat. Dan masyarakat bisa mendapatkan manfaat sepenuhnya dari pengembangan PLTS surya atap itu," ujarnya.

Eddy menyebut dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pemerintah menargetkan pembangunan hampir 70 GW pembangkit listrik baru hingga 2034, dengan sekitar 52 GW berasal dari energi terbarukan, termasuk sistem penyimpanan energi baterai.

Dengan tambahan kapasitas tersebut, bauran energi terbarukan Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 17 persen saat ini menjadi hampir 30 persen pada 2034 dan 40 persen pada 2040.