"Masa depan itu bukan dinantikan, tapi disiapkan. The future belongs to those who prepare for it today. Masa depan itu dimiliki, digenggam oleh yang menyiapkan dari sekarang," terangnya.

Selanjutnya, ia menekankan bahwa waktu terus berjalan sehingga kesempatan untuk mempersiapkan diri perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Selain pencapaian akademik, Bima mengingatkan pentingnya pengalaman dan rekam jejak dalam membangun karier.

"Karena yang paling dahsyat adalah universitas kehidupan. Belajar itu belajar dari kehidupan. Dari pergaulan, perkenalan, silaturahmi dan aktif berorganisasi," tambahnya.

Karena itu, Bima mendorong para siswa untuk tidak hanya berfokus pada pelajaran di kelas, tetapi juga aktif berorganisasi, bergaul, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat membantu generasi muda mengembangkan kepedulian sekaligus memahami langkah yang perlu ditempuh untuk meraih cita-cita.

Menutup diskusi, Bima menyampaikan harapannya agar generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi bangsa. Ia juga mengingatkan para siswa untuk tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya tujuan hidup.

"Di hari Sumpah Pemuda ini saya doakan kalian pada saatnya nanti akan menjadi manusia-manusia yang berarti bagi bangsa ini. Hidup hanya sekali, hidup jangan pernah diperbudak materi, hidup harus memiliki arti. Pegang itu. Materi bisa hilang tapi menjadi berarti itu abadi," pungkasnya.