"Jemput karakter itu, cemplung ke permasalahan, aktif di organisasi, komunitas, dan lain-lain. Ini dia tadi ya, kompetensi itu akan membawa kalian ke puncak, kompetensi itu. Tapi yang membuat Anda bertahan di atas itu karakter," katanya.

Bekal pola pikir dan karakter tersebut juga diperlukan generasi muda dalam menghadapi perubahan yang berlangsung cepat, termasuk perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Bima menilai, AI memberikan kemudahan dan meningkatkan produktivitas, tetapi pada saat yang sama menjadi ujian bagi manusia agar tidak kehilangan kemampuan berpikir dan kreativitas.

Karena itu, Bima mendorong generasi muda untuk menggunakan AI secara bijak tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu tetap diimbangi dengan kemampuan manusia untuk berpikir, berkembang, serta mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.

"AI perlu diseimbangkan dengan ethics, dengan morality, dengan isu-isu human," pungkas Bima.