Dalam dialog tersebut, para siswa menceritakan pengalaman belajar hingga cita-cita mereka. Seorang siswi asal Nabire mengaku semakin mandiri dan fokus belajar sejak tinggal di asrama serta bercita-cita menjadi pramugari.
Sementara itu, seorang siswi asal Intan Jaya bercita-cita menjadi dokter karena daerah asalnya masih membutuhkan tenaga kesehatan.
Siswa asal Intan Jaya, Estus, kemudian menanyakan bagaimana pendidikan dapat mengembangkan bakat siswa tanpa membatasi kebebasan mereka dalam belajar.
Fajar menjelaskan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong pembelajaran yang interaktif dan menggembirakan serta memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis.
"Kami mendorong pendidikan yang membebaskan, yang memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, berdialog, serta mengembangkan minat dan bakatnya. Saya melihat pendekatan tersebut sudah dipraktikkan di sekolah ini," kata Fajar.