NADIKABAR.COM β€” Wakil Menteri Pertahanan RI Bidang Logistik, Industri Pertahanan, dan Teknologi, Marsekal TNI Yusuf Jauhari, menyatakan bahwa kemitraan pertahanan dengan Turkiye memiliki arti penting dalam penguatan kemampuan pertahanan nasional dan kemandirian pertahanan Indonesia.

β€œKerja sama ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk membangun kapabilitas pertahanan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesiapan kedua negara dalam menghadapi tantangan keamanan di masa depan,” kata Yusuf saat memberikan sambutan pada acara Hari Nasional Turkiye ke-103 di Jakarta, Kamis malam.

Yusuf menyebutkan bahwa Indonesia memprioritaskan kerja sama pertahanan yang berdampak nyata dan berkelanjutan melalui alih teknologi, produksi bersama, penguatan industri pertahanan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia guna mendorong kemandirian pertahanan dan menciptakan nilai tambah yang seimbang bagi kedua negara.

β€œKe depan, Indonesia berharap dapat terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan Turkiye melalui inisiatif konkret, berkelanjutan, dan saling menguntungkan,” kata Yusuf.

Dia juga mengatakan bahwa Indonesia meyakini kemitraan tersebut tidak hanya akan memajukan kepentingan pertahanan kedua negara, tetapi juga memperkuat kontribusi bersama kita bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Duta Besar Turkiye untuk Indonesia Talip Kucukcan mengatakan bahwa penandatanganan Memorandum Badr pada 21 Oktober 2026 di Doha, Qatar, akan membuka jalan bagi kemitraan kedua negara.

β€œKerja sama di bidang industri pertahanan dan keamanan memegang peranan penting dalam hubungan persaudaraan kita. Penandatanganan Memorandum Badr baru-baru ini akan membuka jalan bagi kemitraan antara Turkiye dan Indonesia,” kata Dubes.

Menurutnya, Indonesia dan Turkiye bekerja sama erat dalam berbagai organisasi dan platform multilateral, termasuk PBB, OKI, G20, dan MIKTA, menambahkan bahwa dialog kemitraan Turkiye dan ASEAN dapat terwujud berkat dukungan kuat dari Indonesia serta negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Meskipun demikian, Talip mengatakan bahwa dirinya meyakini bahwa masih terdapat ruang untuk pengembangan hubungan bilateral lebih lanjut, terutama di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, perdagangan, dan pertahanan.

β€œPerlu saya sampaikan bahwa saat ini terdapat hampir 6.000 mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai universitas kami. Selain itu, terdapat pula komunitas Turkiye yang dinamis di Indonesia,” jelasnya.

Pada 21 Oktober 2026, Indonesia, Turkiye, Qatar, dan Pakistan menandatangani Memorandum Badr di Doha, Qatar, yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan kemitraan strategis.

Memorandum tersebut diharapkan akan membantu meningkatkan peluang ekonomi bagi keempat pihak dengan mengombinasikan kapabilitas produksi militer masing-masing, meningkatkan integrasi dan memperkuat industri pertahanan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara sahabat.

Perjanjian itu juga diharapkan akan memperluas kerja sama militer antara keempat negara, memperdalam hubungan di sektor pertahanan, dan memperkuat kolaborasi multilateral untuk mendukung keamanan, stabilitas, dan tujuan bersama.