NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin P Octavianus mendorong kolaborasi antara pemerintah dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.

"Prioritas Kemenkes RI, antara lain peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, layanan kesehatan yang merata dan berkeadilan, penguatan SDM kesehatan dengan memanfaatkan teknologi, serta menjalin kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, dan masyarakat untuk Indonesia yang lebih sehat," kata Benjamin di UKI Jakarta, Jumat.

Benjamin yang merupakan alumnus Fakultas Kedokteran UKI mengatakan penguatan kualitas SDM kesehatan merupakan salah satu prioritas Kementerian Kesehatan.

Dia menilai Indonesia akan menghadapi momentum penting dalam perkembangan demografi penduduk.

"Pada tahun 2030, proporsi penduduk usia produktif, yakni 15-64 tahun, berada pada puncak demografi. Tanpa SDM sehat dan kompeten, surplus tenaga kerja menjadi beban pengangguran," ujar Benjamin.

Maka dari itu, Benjamin mengajak UKI untuk membangun sistem kesehatan yang semakin kuat, adil, bermutu, dan mampu menjawab tantangan masa depan. Ia meyakini UKI dapat melahirkan karya yang memberikan manfaat bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga dunia.

Dalam kesempatan tersebut, dia turut mengapresiasi kontribusi FK UKI dalam menghasilkan tenaga medis yang telah mengabdi di berbagai wilayah di Indonesia maupun di luar negeri.

"UKI memiliki Fakultas Kedokteran yang hingga tahun 2025 telah meluluskan lebih dari 6.000 dokter yang telah berkontribusi di berbagai pelosok Indonesia dan dunia dalam pelayanan kesehatan. Kementerian Kesehatan mendukung FK UKI memiliki program pendidikan spesialis ke depannya," ucap Benjamin.

Selain penguatan tenaga kesehatan, dia juga menyoroti pentingnya kemandirian nasional dalam pengembangan vaksin.

"Kembangkan vaksin di Indonesia untuk penyakit prioritas melalui riset dalam negeri, uji klinik, dan penguatan kapasitas nasional. Kolaborasi riset dan inovasi untuk vaksin yang aman, efektif, terjangkau, dan berdaulat bagi Indonesia," tutur Benjamin.

Sementara itu, Rektor UKI Angel Damayanti mengatakan peringatan Dies Natalis ke-73 bukan sekadar momentum mengenang perjalanan panjang institusi, melainkan kesempatan untuk merefleksikan nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri UKI.

"Langkah menuju global telah kita bangun. Pada tahun 2025, UKI merealisasikan 54 kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, serta 33 kerja sama dengan lembaga nonperguruan tinggi dari luar negeri," ungkap Angel.

Memasuki periode kepemimpinan 202-2030, UKI mengusung semangat UKI EMAS yang terdiri atas empat pilar, yakni Empowerment (pemberdayaan), Meaningfulness (kebermanfaatan), Agility (kelincahan), dan Sustainability (keberlanjutan).

"Saya berharap lulusan UKI bukan hanya pencari kerja, tetapi pencipta solusi dan inovasi. Dosen bukan hanya mengajar, tetapi menghasilkan ilmu dan perubahan. Riset bukan berhenti di publikasi, tetapi menjadi inovasi di masyarakat," pungkas Angel.

Memasuki usia ke-73, UKI menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan, memperkuat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta memperluas jejaring kolaborasi nasional dan internasional.

Melalui semangat "From Legacy to Global Impact", UKI berupaya menjadikan nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya sebagai landasan untuk menghasilkan kontribusi yang semakin bermakna bagi masyarakat Indonesia dan dunia.