NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menekankan penanganan persoalan tuberkulosis (TBC) perlu dipastikan menyasar orang yang menjadi kontak erat dengan pasien, agar penanggulangan optimal.
Benjamin di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat, mengatakan, kontak erat atau dalam hal ini adalah orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC seharusnya mendapatkan penanganan medis secara komprehensif.
"Masalah kita adalah yang diobati hanya yang sakit dan yang (memiliki potensi) tertular tidak diperiksa," kata dia.
Oleh karena itu, dia menyampaikan bahwa deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya menyelesaikan persoalan TBC, mengingat Indonesia merupakan negara dengan kasus terbanyak kedua di dunia.
Dia menegaskan, dalam urusan penanganan pasien TBC dokter di Indonesia sudah memiliki kompetensi yang baik, tetapi proses deteksi dini kepada kontak erat tetap dikuatkan dan dilaksanakan merata di seluruh daerah sebagai bagian upaya pencegahan kasus.
Lebih lanjut, sebagai solusi maka pemerintah telah menginisiasi program cek kesehatan gratis (CKG) yang bisa dimaksimalkan sebagai wadah dalam mempercepat proses skrining kondisi kesehatan masyarakat dan memberikan kepastian upaya tindak lanjut secara medis di fasilitas kesehatan.
Selain TBC, masyarakat bisa mengetahui kondisi kesehatannya, apakah mengalami gejala penyakit lain, seperti hipertensi dan diabetes.
Ia juga mengingatkan kepada setiap daerah agar mencontoh langkah konkret yang sudah ditunjukkan oleh Pemerintah Kota Batu dalam upaya menghadirkan inovasi bidang kesehatan, melalui program Satu Desa Satu Dokter.
"Sumber daya manusia (SDM) di Kota Batu luar biasa, ada Satu Desa Satu Dokter yang mungkin di Indonesia tidak banyak yang menerapkan," ujar dia.
Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman, menambahkan, hasil skrining kesehatan melalui program Satu Desa Satu Dokter wajib ditindaklanjuti dengan penanganan medis yang tepat.
"Dengan begitu masyarakat segera memperoleh intervensi medis sesuai kondisinya," kata dia.